Awal Mula
Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah
namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album
ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.
Respito - "Angels Cry" official video clip
Tampilkan postingan dengan label rock. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rock. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Februari 2010
Jumat, 08 Januari 2010
RESPITO at "IRF-INDIEROCKSTAR" Respect Life Without Drugs

IRF-INDIEROCKSTAR
Berbicara mengenai musik memang tidak akan ada habisnya. Demikian pula dengan musik indie yang memiliki idealisme tinggi, penikmat musik indie dan musisi yang setia pada jalur-nya tidak pernah berkurang, justru semakin bertambah dan memasuki rentang usia yang semakin meluas. Keberadaan dan perkembangan Band-band indie sekarang ini dan musik yang mengutamakan kebebasan berekspresi dari jenis-jenis musik yang mainstream atau cenderung menjadi trend terlihat masih banyak yang belum bisa menentukan kemana arah tujuan-nya dan tidak ada wadah yang secara aktif dan profesional menanganinya.
Dengan pertimbangan diatas “IRF Indierockstar” suatu wadah yang mencoba menjawab akan hausnya pecinta musik akan informasi yang cepat dan aktual, juga sebagai tempat mengekspresikan idealisme indie yang dikelola secara professional juga yang terpenting adalah untuk menjembatani terbentuknya citra kultural musik Indonesia dan membangkitkan semangat dan kreatifitas talenta-talenta musisi muda untuk terus berkarya.
...............................................................................................................................
IRF-INDIEROCKSTAR SUNDAY'S JAM
Dare to explore your talent and creativity?
Menindaklanjuti animo yg tinggi dari teman2x indie & dan persiapan untuk IRFindierockstar goes to school & campus. Sebagai langkah awal IRF bekerjasama dengan beberapa media partner dan Mario's Place Cafe menggelar acara "IRFindierockstar - Sunday's Jam" yang akan diselenggarakan setiap hari minggu di Mario's Place Cafe, Jl. Cikini Raya No.2-4, Jakarta Pusat mulai jam 13:00 WIB s.d 17:00WIB. Tentunya tetap dengan semangat "Respect Life Without Drugs" acara ini akan berlangsung mulai hari minggu tanggal 15 November 2009 dan seterusnya. Bagi teman2x yang tertarik untuk mengikuti acara Sunday's Jam ini, silahkan kirim email biodata band anda ke bagian talent IRF: fajar@indonesiarockforum.com atau telp aja ke sini untuk lebih detail:
Bimo: 0856.9268.7334 atau Fajar: 0856.9538.2200
Beberapa kesepakatan2x yg sudah dirumuskan dari pihak2x yang terkait dalam acara Sunday's Jam tersebut sbb:
1. Tidak ada biaya registrasi alias GRATIS !!!
2. Berpakaian sopan (no sandals & celana buntung)
3. Tidak brutal dan Harus memainkan lagu sendiri bukan covering
4. All genre kecuali dangdut & thrash metal atau musik rock yg nggak jelas
5. Hanya 12 band yg akan jamming/minggu & masing2x memainkan max.3 lagu/band
6. Tidak diperkenankan membawa makanan/minuman dari luar sebab Mario's Place memberikan discount sangat khusus (diskon 50%) untuk acara Sunday's Jam & Free WiFi
7. Diwajibkan untuk membawa alat musik sendiri [gitar & bass] karena Cafe hanya menyediakan peralatan standar seperti keyboard & drum
8. Sunday's Jam terbuka untuk UMUM dan IRF sangat terbuka bagi talent2x muda mulai dari SMP, SMA & MAHASISWA
9. Band2x terbaik akan diberikan kesempatan untuk tampil dalam event reguler IRF
Ayo buruan daftarin band kamu, jangan sampai kelewatan. Tunjukkan kreativitas dan talenta mu. Terus berkarya dan STAY AWAY FROM DRUGS.
http://www.indonesiarockforum.com
http://irf-indie.ning.com/
http://www.facebook.com/group.php?gid=75098139822&ref=ts; http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Indonesia-Rock-Forum/136508678160?ref=nf
http://www.facebook.com/pages/IRF-ONLINE-STORE/182332881514
...............................................................................................................................
Info Terkini mengenai kerjasama dengan Mlivemusic & speedytrek buat IRF Indierockstar sbb:
1. Semua band yg sudah mengisi acara di Sunday's Jam sesi 1 & sesi 2 dan yg akan yg terpilih maen di Sunday's jam sesi berikutnya, dihimbau untuk memberikan CD demo nya kepada IRF yg berisi beberapa lagu karya sendiri kepada IRF.
2. Band2x yg terpilih (HANYA 3 BAND TERBAIK/sesi) akan dibuatkan CD PROMO KOMPILASI dan akan dititip edarkan setiap terbitan majalah Mlivemusic (bulanan). Adapun pendistribusian majalah MLIVEMUSIC adalah berskala nasional dan juga didistribusikan kepada +/- 386 radio lokal serta akan diupload langsung di website speedytrek.
3. Band2x yang terpilih akan diliput/diulas dan dibuatkan profile band-nya di majalah MLIVEMUSIC.
4. Selain yg sudah disebutkan diatas, Untuk band2x yg masuk dalam CD PROMO KOMPILASI, IRF & MLIVEMUSIC akan membuatkan RBT (Ring Back Tone)
Player Sunday's Jam Sesi5 - 9 Jan 2010 sbb:
1. I RIFF & METAL MEDICINE
http://www.facebook.com/profile.php?id=615139894&ref=search&sid=1823321178.2906765478..1
2. THE FORTUNE
http://www.facebook.com/pages/The-Fortune/120527934737?ref=mf
3. MORNING SHINE
http://www.facebook.com/group.php?gid=232142025640&ref=ss
4. DEAR HEIDY
http://www.facebook.com/pages/Dear-Heidy/54193438447?ref=search&sid=1823321178.2343557286..1
5. SAGODI
http://www.facebook.com/group.php?gid=131951695974
http://www.facebook.com/profile.php?id=1416663461
6. RESPITO
http://www.facebook.com/group.php?gid=60462383664&ref=search&sid=1823321178.3132590722..1
http://www.respito.co.cc
7. SHOCKWAVE
http://www.facebook.com/profile.php?id=1177818170&ref=ss
8. HAPPY DAY
http://www.facebook.com/pages/HAPPY-DAY/113784645396?ref=search&sid=1823321178.1347954190..1
9. BARRAK3
http://www.facebook.com/group.php?gid=248413415384&ref=search&sid=1823321178.1879439256..1
10. ELLIPS
11. SHANEZ - Band Tamu dari Komunitas Laskar Langit
12. J'LENTERA - Band Tamu dari Komunitas Laskar Langit
13. JAKARTA BOMBLAST
dapatkan cd respito "jalan menuju surga" pada acara ini!
support your local indie scene!
for those about to rock, we salute you!
Label:
band,
barrak3,
dear heidy,
forum,
happy day,
indie,
indonesia,
live,
mario's place,
morning shine,
respito,
rock,
sagodi,
shanez,
shockwave,
the fortune
Kamis, 07 Januari 2010
sebuah review, Respito: jalan menuju surga, the album
Periode akhir ‘90-an merupakan awal kehancuran grunge. Adalah anak haram hasil percampuran darah grunge dan hard rock, yang kemudian diberi nama post-grunge oleh industri musik, yang memporakporandakan kerajaan yang dibangun oleh empat dewa dari Seattle itu. Meskipun, tentu saja, hingga hari ini dua dewa masih tegak berdiri, satu dalam upaya merangkak kembali, dan mereka tetap bisa dengan sukses menghajar balik raksasa post-grunge samacam Nickleback, Staind, maupun Creed yang baru saja bangkit dari kubur.
Dan disitulah Respito berdiri. Mengangkangi jurang pengkotakan musik, dengan satu kaki berpijak pada lirik yang banyak mengandung gugatan dan amarah khas grunge, sementara kaki lainnya nyaman berdiri pada lagu yang durasinya tergolong panjang, lengkap dengan solo gitar yang berlama-lama dan cenderung terdengar manis, khas hard rock.
Seolah menyesuaikan dengan namanya, Respito, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti Surga, album penuh pertama mereka ini diberi judul Jalan Menuju Surga. Bahwa surga yang dimaksud adalah alam pikiran, bukan surga seperti yang didongengkan oleh banyak agama, tanyakan saja pada Pheps, yang menulis semua lirik lagu dalam album ini.
Delapan lagu, dengan satu lagu bonus sebagai tambahan, terdengar terlalu sedikit untuk menjadi album. Namun, mengingat durasi lagu-lagunya yang memang tergolong panjang, jumlah itu rasanya menjadi pas.
Angels Cry dan Membusuk di Neraka, dua lagu yang paling saya sukai dari album ini, juga tidak main-main durasinya. Yang pertama berdurasi 5:58 menit, sementara yang kedua 5:22 menit. Sangat tidak radio friendly, jika boleh dibilang demikian.
Satu lagu lagi, Angkuh, yang terdengar pop meski dengan distorsi yang cukup pekat, yang ternyata makin enak didengar setiap kali saya putar, dan sangat cocok menemani saya menyelesaikan buku silat karangan Seno Gumira Ajidarma yang setebal 800 halaman itu, lebih masuk akal durasinya. Cukup 4:19 menit saja.
Tapi itulah Respito, yang mengusung semangat perlawanan grunge dalam lirik, bentuk, maupun durasi lagu.
Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam – seandainya Anda belum tahu – pernah bilang, “Anda boleh tidak suka dengan musik kami, tapi dijamin Anda pasti suka dengan kaus kaki yang kami jual (di website).” Saya berkata, “Kecocokan musik Respito dengan selera kuping kita masing-masing memang terbuka untuk diperdebatkan, seperti juga halnya setiap karya seni musik lainnya, tapi satu hal yang pasti: art work albumnya ok punya!”
Jalan Menuju Surga menggunakan bahan sampul album yang ramah lingkungan, dalam arti tidak akan menjadi polusi jika kemudian kita cukup gila untuk membuangnya ke tempat sampah.
Dan yang sangat menarik, jika tidak boleh disebut mengagumkan, adalah lima gambar yang berasal dari goresan tangan Pheps dan Daff, sang gitaris. Meski, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa makna gambar-gambar tersebut. Namun, kehadirannya dalam sampul album ini tak terelakkan menambah nilai koleksinya. Menjadikan Jalan Menuju Surga tidak berhenti sebagai musik, tapi menjadi karya seni multi-dimensi yang layak dikoleksi.
Itulah dia, Respito, dengan albumnya Jalan Menuju Surga. Meretas masa depannya dengan bermodalkan karya seni sendiri. Terpengaruh, namun jelas bukan mencontek, apalagi mencuri. Menyongsong kedatangan tahun singa logam yang merupakan periode tercapainya kemakmuran bagi semua orang yang bekerja sangat keras.
- eko prabowo
Dan disitulah Respito berdiri. Mengangkangi jurang pengkotakan musik, dengan satu kaki berpijak pada lirik yang banyak mengandung gugatan dan amarah khas grunge, sementara kaki lainnya nyaman berdiri pada lagu yang durasinya tergolong panjang, lengkap dengan solo gitar yang berlama-lama dan cenderung terdengar manis, khas hard rock.
Seolah menyesuaikan dengan namanya, Respito, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti Surga, album penuh pertama mereka ini diberi judul Jalan Menuju Surga. Bahwa surga yang dimaksud adalah alam pikiran, bukan surga seperti yang didongengkan oleh banyak agama, tanyakan saja pada Pheps, yang menulis semua lirik lagu dalam album ini.
Delapan lagu, dengan satu lagu bonus sebagai tambahan, terdengar terlalu sedikit untuk menjadi album. Namun, mengingat durasi lagu-lagunya yang memang tergolong panjang, jumlah itu rasanya menjadi pas.
Angels Cry dan Membusuk di Neraka, dua lagu yang paling saya sukai dari album ini, juga tidak main-main durasinya. Yang pertama berdurasi 5:58 menit, sementara yang kedua 5:22 menit. Sangat tidak radio friendly, jika boleh dibilang demikian.
Satu lagu lagi, Angkuh, yang terdengar pop meski dengan distorsi yang cukup pekat, yang ternyata makin enak didengar setiap kali saya putar, dan sangat cocok menemani saya menyelesaikan buku silat karangan Seno Gumira Ajidarma yang setebal 800 halaman itu, lebih masuk akal durasinya. Cukup 4:19 menit saja.
Tapi itulah Respito, yang mengusung semangat perlawanan grunge dalam lirik, bentuk, maupun durasi lagu.
Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam – seandainya Anda belum tahu – pernah bilang, “Anda boleh tidak suka dengan musik kami, tapi dijamin Anda pasti suka dengan kaus kaki yang kami jual (di website).” Saya berkata, “Kecocokan musik Respito dengan selera kuping kita masing-masing memang terbuka untuk diperdebatkan, seperti juga halnya setiap karya seni musik lainnya, tapi satu hal yang pasti: art work albumnya ok punya!”
Jalan Menuju Surga menggunakan bahan sampul album yang ramah lingkungan, dalam arti tidak akan menjadi polusi jika kemudian kita cukup gila untuk membuangnya ke tempat sampah.
Dan yang sangat menarik, jika tidak boleh disebut mengagumkan, adalah lima gambar yang berasal dari goresan tangan Pheps dan Daff, sang gitaris. Meski, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa makna gambar-gambar tersebut. Namun, kehadirannya dalam sampul album ini tak terelakkan menambah nilai koleksinya. Menjadikan Jalan Menuju Surga tidak berhenti sebagai musik, tapi menjadi karya seni multi-dimensi yang layak dikoleksi.
Itulah dia, Respito, dengan albumnya Jalan Menuju Surga. Meretas masa depannya dengan bermodalkan karya seni sendiri. Terpengaruh, namun jelas bukan mencontek, apalagi mencuri. Menyongsong kedatangan tahun singa logam yang merupakan periode tercapainya kemakmuran bagi semua orang yang bekerja sangat keras.
- eko prabowo
Label:
album,
alternative,
angels cry,
creed,
daff,
grunge,
hard rock,
jalan menuju surga,
nickelback,
pheps,
post grunge,
respito,
review,
rock,
staind
Langganan:
Postingan (Atom)